Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Februari 2009

KUNING

wajahmu kuning
membuncah penuh nada
direnda rona nyala
tersipu
Tatapmu lurus
detak waktu berdenyut
bersama peraduanmu

Seringaimu hening
menahan hari yang beranjak
tergesa dalam irama gumammu

Bisikmu ingatkan aku
esok lagi berarti

MENANTI HARI

membayang dalam jeratan singkap
terlelap hitam mengaduk sunyi, lagi
lenyap masa yang bertunas
kerdil jika diraup

derai mengalun berlamat
huni tinggal menatap
hari berlari-lari, tak berkaki

sekap berjengah ganti
lintang sukar menjenjang endus
terlipat kelam bertadah hampa
ingin kerik berkali

turun percik menyurut
sandar bukit peluhan
hitung melaju, enggan menderu
menapak langkah benalu

terang kemilau disangga
berukir 59 dirongganya
tapi tak jua ku-Indera
rabai, rasai, peluhi, jejaki
mendengus titik fanaan
sembunyi di tingkapan balai
menanti hari..

LIARAN

Dia yang keliaran
dia yang menyusur jalan
dengan derap berat nafas
buru ruang hiruk yang lengang

Dia yang keliaran
mencari jejak air mata
berlinang tumpah di tepi hari
menyedu hati yang penuh
irisan luka abadi bertanggal lahir

Dia yang keliaran
menghirup jejak hidup kesunyian
harap rengkuh barang nyawa
tertinggal di sengal bibir
mencumbu keheningan kelam dengan ganas
gelora enggan menyauh

Dia yang keliaran
gundah selalu masa
berpacu bersama-sama
terang tak diminta
gerus sabda sejati
luntak mengucur darah suram
tak rela tinggalkan kini

Dia yang keliaran
menangis sepi di tepi hari
bergumam pasti
"aku-akan-kembali-setiapkali-engkau-terlarut-nikmat!"

SAUH GEMURUH

Menyauh ujung deru gemuruh
senggulung tirus menatap liku
dalam buncah dengung
menghunus kelu jabat terlindap

Saling, beradu riuh henti mengerut
terakan jengah pula
pusaran sungkur bersungut-sungut jejak derapan

Gelung rima menjerit sunyi
tidak tandas sengau
meringkuk jeri senyapan
lelap hingga benaman

Turun seri
dipecah sangkar berhuni
celetuk sendi

Jumat, 14 November 2008

DATANG TERANG

Guguran titik menyuruk perlahan
membentang kilau berderak di ujung tingkap
bersenandung pilu tanpa mengucap
lirih getir tiban dibebat.

Rangkai pikatan ujung pelikan
tersembul sungging menguntit hampa
rongga kalbu lerak senantiasa
berkicau kelaman menyarung pekat.

Derit pilau sekujur berjejak tiada
menghamba pertanda soliter
luluh mengendapi kelu.

Remuk lunglai menghidu massa
jika ia tak datang juga.

Terang memindai kelibat dalam jeruji
berharap engkau menyeru lantang
"Tak datang berarti jalang, terang!"
kerut terlipat denyutan titi
pilu menyeru belantara waktu
tepian tatkala singsing bergema jumawa
di ruang kusut berkelindan kelebat.

Tetapi malam sudah turun perlahan
menyuruk kilau di sela jelaga kusam
seruduk tumpahan menyibak terang yang terbungkus wajah kelu merona
berdandan peluh dijabat dengusan khidmat.

Tiba jua sang karang
perkasa berdiri menginjak nyali
bernyala legam, bertahta pualam, kelam sesaat indraan nuansa
laku menyala tindihkan nada,tumpas jenggirat racau berliuk menyambar sampar!

Semilir mengalun murung,
menggigit gelisah di ujung rindu

Mungkin belum waktu

KEJAR

Benderang menantang, terik
Tenggelam kelam, timbul berdusta
Kerlip sinis ufuk kilatan
Siraman peluh membilas undi
Terlampau mega, Oh Sang Maha!
Ketuk ringkih langkah tertatih
Simpuh rendah, akal berlari
Mengejar-mu, -Mu.

BINGKAI

Bingkai satu: terlambat-sekat-rambat.

Gerak peluh sambung kinanti
telah tiba perintang aksi
rambat lamat berjalan pekat
tidak.

Tepi-ujung-sudut nuansa, mana pula teriak beriuh-runtuh?
Jangan keluh berjauh
masa sebenar logika
tak tepat dikecup rasa
jalan separuh runtuh
saat tekuk terlambat menjemput.
Mana!

Perihal endap kali berputar
datang pula peraduannya
Kilat:menggaruk kelibat.

MULAI SATU

Kelu, jejakku menyusut perlahan
bergerak saat tiada mengucap.
Desah lamat-lamat tertinggal
merenda penanda yang menggumpal-kalut.

Tidak tunduk tengadah berlari-kulintang meredup untai pilu yang mengatup

Semenjak masa yang bertarung
tetes pelu kelau menyahut lirih "apa kabarmu?"
dan aku tak hendak tengadah.

Mulai satu
engkau bersua ufuk temaram-dipekikkan galau menelusur nuansa.
Seperti, kala kita berjumpa
seringah mereda
tanggalkan kilap bertunas
belum jua tandas.

Bagikan