Guguran titik menyuruk perlahan
membentang kilau berderak di ujung tingkap
bersenandung pilu tanpa mengucap
lirih getir tiban dibebat.
Rangkai pikatan ujung pelikan
tersembul sungging menguntit hampa
rongga kalbu lerak senantiasa
berkicau kelaman menyarung pekat.
Derit pilau sekujur berjejak tiada
menghamba pertanda soliter
luluh mengendapi kelu.
Remuk lunglai menghidu massa
jika ia tak datang juga.
Terang memindai kelibat dalam jeruji
berharap engkau menyeru lantang
"Tak datang berarti jalang, terang!"
Dari kata/ yang sederhana/ akan terpahat makna/ mengendap dan berenang/ menyibak tanya yang merubung napas. Dalam tawa, ingin kulihat kembali/ senyummu yang mekar/ di angkasa...(HR-2011)
Jumat, 14 November 2008
kerut terlipat denyutan titi
pilu menyeru belantara waktu
tepian tatkala singsing bergema jumawa
di ruang kusut berkelindan kelebat.
Tetapi malam sudah turun perlahan
menyuruk kilau di sela jelaga kusam
seruduk tumpahan menyibak terang yang terbungkus wajah kelu merona
berdandan peluh dijabat dengusan khidmat.
Tiba jua sang karang
perkasa berdiri menginjak nyali
bernyala legam, bertahta pualam, kelam sesaat indraan nuansa
laku menyala tindihkan nada,tumpas jenggirat racau berliuk menyambar sampar!
Semilir mengalun murung,
menggigit gelisah di ujung rindu
Mungkin belum waktu
pilu menyeru belantara waktu
tepian tatkala singsing bergema jumawa
di ruang kusut berkelindan kelebat.
Tetapi malam sudah turun perlahan
menyuruk kilau di sela jelaga kusam
seruduk tumpahan menyibak terang yang terbungkus wajah kelu merona
berdandan peluh dijabat dengusan khidmat.
Tiba jua sang karang
perkasa berdiri menginjak nyali
bernyala legam, bertahta pualam, kelam sesaat indraan nuansa
laku menyala tindihkan nada,tumpas jenggirat racau berliuk menyambar sampar!
Semilir mengalun murung,
menggigit gelisah di ujung rindu
Mungkin belum waktu
KEJAR
Benderang menantang, terik
Tenggelam kelam, timbul berdusta
Kerlip sinis ufuk kilatan
Siraman peluh membilas undi
Terlampau mega, Oh Sang Maha!
Ketuk ringkih langkah tertatih
Simpuh rendah, akal berlari
Mengejar-mu, -Mu.
Tenggelam kelam, timbul berdusta
Kerlip sinis ufuk kilatan
Siraman peluh membilas undi
Terlampau mega, Oh Sang Maha!
Ketuk ringkih langkah tertatih
Simpuh rendah, akal berlari
Mengejar-mu, -Mu.
SEMBARI
Sembari, menunggu langit berpagut lari
Letakkan gema dibalik takdir
Jalan terlabut kilatan gana
Berteriak pertanda malam,
kerlang penalu guyah berdiri.
Jarak henti berarti lena,
sepi diaduk kontina dedaup.
Suga, jangan henti barisan lara,
terkatup engkau yang berluna.
Lumur gerus kilo penanku,
tak jua penih meski berlabuh.
Letakkan gema dibalik takdir
Jalan terlabut kilatan gana
Berteriak pertanda malam,
kerlang penalu guyah berdiri.
Jarak henti berarti lena,
sepi diaduk kontina dedaup.
Suga, jangan henti barisan lara,
terkatup engkau yang berluna.
Lumur gerus kilo penanku,
tak jua penih meski berlabuh.
BINGKAI
Bingkai satu: terlambat-sekat-rambat.
Gerak peluh sambung kinanti
telah tiba perintang aksi
rambat lamat berjalan pekat
tidak.
Tepi-ujung-sudut nuansa, mana pula teriak beriuh-runtuh?
Jangan keluh berjauh
masa sebenar logika
tak tepat dikecup rasa
jalan separuh runtuh
saat tekuk terlambat menjemput.
Mana!
Perihal endap kali berputar
datang pula peraduannya
Kilat:menggaruk kelibat.
Gerak peluh sambung kinanti
telah tiba perintang aksi
rambat lamat berjalan pekat
tidak.
Tepi-ujung-sudut nuansa, mana pula teriak beriuh-runtuh?
Jangan keluh berjauh
masa sebenar logika
tak tepat dikecup rasa
jalan separuh runtuh
saat tekuk terlambat menjemput.
Mana!
Perihal endap kali berputar
datang pula peraduannya
Kilat:menggaruk kelibat.
Langganan:
Postingan (Atom)