Kegiatan besar yang harus saya gawangi bukan hanya di dua peristiwa akbar yang telah saya sebutkan pada kesempatan sebelumnya (Pemira dan Dies Natalis), melainkan juga tanggungjawab sebagai salah satu pengabdi setia di (nama resminya) Departemen Kastrat BEM KM UGM (rekan saya, saudara HaPe lebih suka memanggilnya “nGasTraT”).
Meski resminya kegiatan terakhir departemen atau keluarga kastrat yang telah berbaik hati menaungi saya selama dua tahun saya mengerat ilmu di Bulaksumur adalah membuat buku yang berisikan tulisan pemikiran staf-staf yang mengabdi didalamnya, toh akibat perselingkuhan dengan lembaga yang bernama PuKaT dan seorang bujang yang kuliah di fakultas Hukum angkatan 2003, maka nGasTrat ketibanan gawean lagi.
Dari kata/ yang sederhana/ akan terpahat makna/ mengendap dan berenang/ menyibak tanya yang merubung napas. Dalam tawa, ingin kulihat kembali/ senyummu yang mekar/ di angkasa...(HR-2011)
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Desember 2008
Alasan Absen Menulis
Saya mengakui bahwa beberapa waktu belakangan ini, saya tidak memiliki kelonggaran waktu untuk terus memperbarui isi blog ini. Kesibukan di organisasi politik intra kampus (saya menolak tuduhan sebagai antek-antek yang digunakan oleh fraithzone.blogspot.com, karena saya lebih suka menggunakan istilah fungsionaris) yang sedang menyelenggarakan berbagai aktivitas adalah biang keladi dari absennya saya di menulis di blog ini (juga dalam beberapa kali kesempatan kuliah).
Signifikansi Prasadja
Setelah lama tidak bercakap-tulis dalam blog ini, saya akhirnya mendapatkan keluangan waktu untuk mengisi blog yang sederhana ini. Sesuai namanya yang baru, blog ini bukan hanya berisi gagasan-gagasan yang mengagung-agungkan narasi besar (grand narrative), tetapi lebih dicondongkan untuk meretas pemikiran-pemikiran sederhana yang dapat dinalar oleh khalayak luas.
Sebagaimana kisah Umar Kayam (Kayam, Umar. Mangan Ora Mangan Kumpul, Grafiti, Jakarta:1990) dalam kumpulan tulisannya di harian “Kedaulatan Rakyat” tentang salah satu sahabatnya yang bernama Dr. Prasadja Legowo. Dia adalah seorang ilmuwan matematika kelas dunia yang sudah berulangkali diundang ke luar negeri untuk berbicara mengenai beragam konsep yang ditemukannya, tetapi dia tidak kunjung jua mencapai gelar Profesor ataupun Guru Besar.
Sebagaimana kisah Umar Kayam (Kayam, Umar. Mangan Ora Mangan Kumpul, Grafiti, Jakarta:1990) dalam kumpulan tulisannya di harian “Kedaulatan Rakyat” tentang salah satu sahabatnya yang bernama Dr. Prasadja Legowo. Dia adalah seorang ilmuwan matematika kelas dunia yang sudah berulangkali diundang ke luar negeri untuk berbicara mengenai beragam konsep yang ditemukannya, tetapi dia tidak kunjung jua mencapai gelar Profesor ataupun Guru Besar.
Langganan:
Postingan (Atom)